Review Secangkir Kopi di Senja MerahJul 26, '05 12:05 AM
for everyone
Category:Other
aku belajar membuat cerpen lagi nih.. pagi tadi nulisnya.. semua tempat dan kejadian dalam cerita ini tidaklah nyata dan hanya rekaanku sajah.. begitu...


Secangkir Kopi di Senja Merah


Wajahnya terlihat keruh. Bercangkir-cangkir kopi telah tergelontor dalam kerongkongannya. Ia berharap, kafein itu akan membuat matanya melek dan mengusir kantuk yang merambati sisa sadarnya. Ia harus bisa terjaga. Ya.. terjaga. Bertumpuk makalah harus ia selesaikan. Tesis juga menunggu untuk dirampungkan. Buku-buku tebal bertebaran di meja dan lantai kamar. Sepertinya begitu rakus ingin dilahapnya refrensi-refrensi dari kitab-kitab tebal itu.

Belum lagi semua itu selesai, permasalahan baru muncul. Permasalahan kecil sih. Hari ini ia membuka internet dan masuk ke milist langganannya. Ia menyukai milist tersebut karena kegemaran berdiskusinya bisa tersalur. Kegemarannya bertukar pikir bisa mendapat pelampiasan. Dan hari ini di milist ada seorang memposting tulisan tentang penggusuran. Tulisan seorang anak muda,Sepertinya. Tterlihat dari gaya bahasanya yang meledak-ledak. Cenderung provokatif. Huh.. dasar anak muda sekarang, baru tahu masalah sedikit saja sudah berkomentar macam-macam. Laki-laki setengah tua itu terlihat geram. Wajahnya yang sudah menjelang senja itu tambah lindap kusam.
Dengan sigap, di komentarinya tulisan tersebut. Nalurinya sebagai seorang pendebat ulung langsung terusik. Beberapa hal yang ada dalam tulisan dianggapnya sangat tidak sesuai dengan prinsip yang diyakininya. Prinsip yang lebih dari 30 tahun mengeram di dalam otaknya. Bertentangan dengan didikan lingkungan tempat dia tumbuh dan besar. Nah selesai bathinnya. Balasan telah tersusun dan siap di posting. Dalam hitungan detik tulisannya online. Tinggal menunggu balasan dari penulisnya. Terlihat di ikon, penulis masih online. Bakal seru nih, batinnya girang.

Sambil menunggu balasan, diambilnya lagi secangkir kopi. Tertatih ia berjalan ke dapur. Hari ini istri dan anak-anaknya sedang keluar berbelanja. Ia sendiri lebih memilih di rumah. Toh istrinya bisa bawa mobil. Kopi hitam kegemarannya sejak di Indonesia telah tersaji. Kopi itu di pesan dari adiknya yang tinggal di jakarta, dan kemarin sekardus kopi telah sampai di alamatnya.. hmm… harum kopi Torabika segera menyebar di ruangan kerjanya. Tidak ada yang lebih lezat selain minuman yang mengandung kenangan, batinnya. Betapa kopi itu mengingatkannya akan sebuah rumah besar di ujung jakarta.dengan bunga-bunga melati dalam pot yang merambat di samping rumahnya yang teduh. Dengan Mbok Ijah yang selalu setia melayani keluarganya. Sudah lebih lima tahun ia tinggalkan rumah itu, ia tinggalkan kota itu, negeri itu.. yahh sudah lama ia tinggalkan Indonesia dengan segala dinamika dan kebobrokan yang hanya ia dengar dari kejauhan.

Kembali ia terduduk di depan laptop kesayangannya. Sudah ada balasan masuk, ia lihat ada yang menaggapi tulisannya, kali ini lebih ngawur dan cederung memojokkan. Di cermatinya tulisan tersebut. Sepertinya juga di tulis oleh anak muda. Bahasanya itu lho. Waduh, anak muda Indonesia sekarang jadi seperti ini. jadi kekiri-kirian gini? Betapa nada tulisan dan refrensi yang dipakai melandasi tulisan tersebut mengingatkannya pada bacaan kiri yang dulu pernah ia lahap. Pernah ia temui di situs-situs sosialis yang pernah ia buka. Matanya terlihat memerah.. nalurinya terusik. Indonesia bisa hancur kalau penerus negeri adalah pemuda-pemuda dengan pikiran kiri seperti ini. Tidak bisa dibiarkan!! Dengan cekatan dibalasnya lagi sanggahan tersebut. Ia harus menghabisi argumen itu. Anak kemarin sore aja sok tahu!! Udara ruangan tempatnya tinggal di Negeri Paman Sam yang ber AC sejuk itu jadi terasa gerah. Selesailah argumen ia tulis dan langsung posting. Mati kau!!! bathinnya. Pasti anak itu akan kelabakan mempersiapkan sanggahan balik.
Senyum kemenangan tersungging di ujung bibirnya yang kehitaman karena nikotin. Meski rokok telah ia tinggalkan sejak setahun lalu. Di tunggunya sanggahan balik sambil mereguk kopi hitam. Tak juga kunjung ada sanggahan. Sambil menunggu, dibukanya situs-situs berita. Ia ingin tahu berita terkini dari negaranya, Indonesia. Kompas.com, detik.com, Tempo online. situs lokal yang lumayan bisa ia pakai sebagai refrensi dan mendapatkan sumber berita. Di kliknya lagi milisnya.. duh.. belum juga ada sanggahan balik. Ia berharap perdebatan bisa berjalan terus. Lumayan, bisa menjadi pelampiasannya. Setelah pening dengan tesis yang tak kunjung usai.

Detik, bergerak ke menit, kemudian ke jam.. nah ada balasan. Ia terlonjak... segera perhatiannya tertuju ke tulisan sanggahan itu. Di tulis oleh penulis awal yang tadi melontarkan topik. Dibacanya dengan cermat! Aduh!! Mulutnya gemeletuk melihat tulisan itu. Nada-nada kekirian kental dalam hampir separuh jawaban. Refrensi penulis-penulis sosialis menjadi rujukan jawaban itu. Huh.. tak bisa di biarkan!! Kegeraman langsung membuhul..tangannya terlihat gemetar… “pikiran ngawur!!” Batinnya, belum lagi ia membalas tulisan tersebut.. meluncur lagi sanggahan balasan, dari orang lain lagi, tetapi tetap dengan nada sama.. Wacana sosialisme!! Pikiran kiri!! Celaka!! Indonesia telah di cengkeram komunis!! Gila!! Pikirnya.. reformasi betul-betul melahirkan bayi-bayi komunis pikirnya meradang!.. menyuburkan pikiran kiri!! grhmm… kegeraman bertumpuk di kepalanya…
terbayang tokoh idolanya yang kini telah renta.. wajah halus dan tenang bicara itu.. hal ini tak akan terjadi kalau ia masih berkuasa, batinnya. Kalau ia tidak terjebak krisis ekonomi, indonesia pasti masih seperti dulu. Indonesianya yang sejuk, tidak ada pemberontakan, steril dari pikiran macam-macam.. racun sosialis pasti tak akan tertumpah.. meracuni belia-belia yang mencari jati diri..
Balasan tulisan kemudian menderas susul menyusul, lagi.lagi.. dan lagi…. tulisan dengan masih bernada sama, wacana kekirian, élan sosialisme yang menggebu-gebu!! TidakkK!!! Tak terasa ia berteriak sendiri. Kepalanya meriuh pepat!!. Lantai seperti miring..menggoyahkan kedudukannya di kursi. Ia limbung…

”Ada apa Pap???“Suara isterinya terdengar dari luar kamar. Menyadarkannya. Dilihatnya istri tercinta tergopoh-gopoh masuk kamar masih menenteng belanjaan. “Ada Apa Honey??” Kembali istrinya mengulang pertanyaan sambil memegang bahunya.. wajahnya yang semula memucat kembali berdarah memerah.. seperti senja yang telah menjelang.. Kesadaran yang sempat hilang dalam seperdetik umurnya itu kembali lagi.. “Tidak ada apa-apa Mam…” jawabnya..
Sambil memeluk mesra istrinya…………


34 CommentsChronological   Reverse   Threaded
manukprenjak wrote on Jul 26, '05
hmmmmmmmm.......
ngomong2 alenia kedua panjang banget....hiks...

Man, jere komputer layout mau diberin...kapan?
nisania wrote on Jul 26, '05
kenapa senjanya merah ya? (*hmmm hmmm...)
donbendino wrote on Jul 26, '05
ReviewReviewReviewReview
wadooh nambah deh mine mata gue, anyways bagus,,,,
seblat wrote on Jul 26, '05
nisania said
kenapa senjanya merah
kalau item, brarti lepas maghrib mbak!!
seblat wrote on Jul 26, '05
re komputer layout mau diberin...kapan?
kapan ya Da..? aku kencan ama teknisinya duluh..
nisania wrote on Jul 26, '05
hoooo...ya...ya.... (*manggut-manggut)
seblat wrote on Jul 26, '05
nambah deh mine mata gue
makan wortel mas.. kayak marmut.. kruk.. krukk
Comment deleted at the request of the author.
donbendino wrote on Jul 26, '05
seblat said
makan wortel mas.. kayak marmut.. kruk.. krukk
kira'in di colok, buta doooooong,,,,,
ingwuri wrote on Jul 26, '05
ReviewReviewReviewReview
mas....mas.... ati-ati.
seblat wrote on Jul 26, '05
ingwuri said
mas....mas.... ati-ati
oke ing.. aku sudah hati-hati.. nih lagi jalan di kiri.. kalau di kanan takut kesamber bajaj.. terminal rawamangun rame banget je...
sorayalannazia wrote on Jul 26, '05
ReviewReviewReviewReview
seblat said
oke ing.. aku sudah hati-hati.. nih lagi jalan di kiri.. kalau di kanan takut kesamber bajaj.. terminal rawamangun rame banget je...
wah sering nongkrong di terminal rawamangun yah...hahahahha!
aku tinggal gak jauh dr sana loh!
bagus bgt cerpennya, suka sama cerpen sosial seperti ini yah mas.
dikasih bintang 4 yah;)
republic wrote on Jul 26, '05
seblat said
Secangkir Kopi di Senja Merah
he he he.....judulnya bagus
seblat wrote on Jul 26, '05
he he he.....judulnya bagus
lumayan lama juga mikir judul untuk cerpen ini mas,hehehe
seblat wrote on Jul 26, '05
wah sering nongkrong di terminal rawamangun yah...hahahahha!
aku tinggal gak jauh dr sana loh!
bagus bgt cerpennya, suka sama cerpen sosial seperti ini yah mas.
dikasih bintang 4 yah;)
sawahku ada disamping terminal mbak!! bukannya nongkrong.. apalagi jualan aqua..hehehe
ingwuri wrote on Jul 26, '05
Banyak yang ngasih bintang empat tuh. Berarti sudah jadi jendral dong. selamat ya ndral?
yuda wrote on Jul 26, '05
seblat said
semua tempat dan kejadian dalam cerita ini tidaklah nyata dan hanya rekaanku sajah.. begitu...
cerita fakta atau fiksi? kata Pak Ignas Kleden, hampir tidak ada bedanya antara fakta dan fiksi dalam karya sastra, hatta dalam etnografi antropologis..:)
ingwuri wrote on Jul 26, '05
yuda said
hatta dalam etnografi antropologis..:)
hatta? hatta muhammad hatta? ato hatta rajasa?
latief wrote on Jul 26, '05
seblat said
Mbah Suharto dari majalah Tempo
Maaf, aslinya Eyang Tjendana hehe
yuda wrote on Jul 26, '05
ingwuri said
hatta? hatta muhammad hatta? ato hatta rajasa?
ah kang Ing ini becanda ajah..:)
yuda wrote on Jul 26, '05
seblat said
(tambahan, foto Mbah Suharto dari majalah Tempo).
gmbarnya bagus bangeeetttt.
ladymotts wrote on Jul 26, '05
Mas.... spasinya dijadiin 1,5 gitu kek ... pusing bacanya ...
ingwuri wrote on Jul 26, '05, edited on Jul 26, '05
Mas.... spasinya dijadiin 1,5 gitu kek ... pusing bacanya ...
Iya nih. di kontrol 'J' juga dab [ini bahasa word lho ya]. terus dikasih paragraph. kasih dropcap juga bagus.
republic wrote on Jul 26, '05
ingwuri said
Iya nih. di kontrol 'J' juga dab [ini bahasa word lho ya]. terus dikasih paragraph. kasih dropcap juga bagus.
biarain aja kayak gini, jadi kayak baca bourdieu..
yuda wrote on Jul 26, '05
jadi kayak baca bourdieu.
ada apa dg boudieu? orang perancis itu kah?
republic wrote on Jul 27, '05
yuda said
ada apa dg boudieu? orang perancis itu kah?
pierre bourdieu, mantan rektor college de france. tulisannya bikin lieur. satu paragraf penuh tanpa titik he he he....
yuda wrote on Jul 27, '05
pierre bourdieu, mantan rektor college de france. tulisannya bikin lieur. satu paragraf penuh tanpa titik he he he...
ooh.... aku juga suka pikiran2nya. tapi aku blom sempat baca buku2nya. tuh buku2nya masih nongkrong di rak.:)
ladymotts wrote on Aug 1, '05
yuda said
ooh.... aku juga suka pikiran2nya. tapi aku blom sempat baca buku2nya. tuh buku2nya masih nongkrong di rak.:)
kl belum baca dari mana tau pikiran2nya?
manukprenjak wrote on Aug 1, '05
kl belum baca dari mana tau pikiran2nya?
yuda mungkin punya ilmu "weruh sa durunge winarah" atau ahli nujum atau tukang ramal...........
Sleeping
yuda wrote on Aug 1, '05
yuda mungkin punya ilmu "weruh sa durunge winarah" atau ahli nujum atau tukang ramal...
bukaaaaaaannnn. maksudnya aku belum baca buku2 asli karangan dia. aku cuman baca buku tentang Bourdieu. gitooo..:)
ladymotts wrote on Aug 1, '05
nujum atau tukang ramal.........
wah ... tak kusangka ... yuda ....
ernisusi wrote on Aug 7, '05
Kangen, ya, Mas, sama si Mbah? pake maja fotonya segala...
tujilan wrote on Oct 16, '06
cerpenya bagus sekalii
seblat wrote on Oct 16, '06
tujilan said
cerpenya bagus sekalii
makaciihh...:P
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help