 aku belajar membuat cerpen lagi nih.. pagi tadi nulisnya.. semua tempat dan kejadian dalam cerita ini tidaklah nyata dan hanya rekaanku sajah.. begitu...
Secangkir Kopi di Senja Merah
Wajahnya terlihat keruh. Bercangkir-cangkir kopi telah tergelontor dalam kerongkongannya. Ia berharap, kafein itu akan membuat matanya melek dan mengusir kantuk yang merambati sisa sadarnya. Ia harus bisa terjaga. Ya.. terjaga. Bertumpuk makalah harus ia selesaikan. Tesis juga menunggu untuk dirampungkan. Buku-buku tebal bertebaran di meja dan lantai kamar. Sepertinya begitu rakus ingin dilahapnya refrensi-refrensi dari kitab-kitab tebal itu.
Belum lagi semua itu selesai, permasalahan baru muncul. Permasalahan kecil sih. Hari ini ia membuka internet dan masuk ke milist langganannya. Ia menyukai milist tersebut karena kegemaran berdiskusinya bisa tersalur. Kegemarannya bertukar pikir bisa mendapat pelampiasan. Dan hari ini di milist ada seorang memposting tulisan tentang penggusuran. Tulisan seorang anak muda,Sepertinya. Tterlihat dari gaya bahasanya yang meledak-ledak. Cenderung provokatif. Huh.. dasar anak muda sekarang, baru tahu masalah sedikit saja sudah berkomentar macam-macam. Laki-laki setengah tua itu terlihat geram. Wajahnya yang sudah menjelang senja itu tambah lindap kusam. Dengan sigap, di komentarinya tulisan tersebut. Nalurinya sebagai seorang pendebat ulung langsung terusik. Beberapa hal yang ada dalam tulisan dianggapnya sangat tidak sesuai dengan prinsip yang diyakininya. Prinsip yang lebih dari 30 tahun mengeram di dalam otaknya. Bertentangan dengan didikan lingkungan tempat dia tumbuh dan besar. Nah selesai bathinnya. Balasan telah tersusun dan siap di posting. Dalam hitungan detik tulisannya online. Tinggal menunggu balasan dari penulisnya. Terlihat di ikon, penulis masih online. Bakal seru nih, batinnya girang.
Sambil menunggu balasan, diambilnya lagi secangkir kopi. Tertatih ia berjalan ke dapur. Hari ini istri dan anak-anaknya sedang keluar berbelanja. Ia sendiri lebih memilih di rumah. Toh istrinya bisa bawa mobil. Kopi hitam kegemarannya sejak di Indonesia telah tersaji. Kopi itu di pesan dari adiknya yang tinggal di jakarta, dan kemarin sekardus kopi telah sampai di alamatnya.. hmm… harum kopi Torabika segera menyebar di ruangan kerjanya. Tidak ada yang lebih lezat selain minuman yang mengandung kenangan, batinnya. Betapa kopi itu mengingatkannya akan sebuah rumah besar di ujung jakarta.dengan bunga-bunga melati dalam pot yang merambat di samping rumahnya yang teduh. Dengan Mbok Ijah yang selalu setia melayani keluarganya. Sudah lebih lima tahun ia tinggalkan rumah itu, ia tinggalkan kota itu, negeri itu.. yahh sudah lama ia tinggalkan Indonesia dengan segala dinamika dan kebobrokan yang hanya ia dengar dari kejauhan.
Kembali ia terduduk di depan laptop kesayangannya. Sudah ada balasan masuk, ia lihat ada yang menaggapi tulisannya, kali ini lebih ngawur dan cederung memojokkan. Di cermatinya tulisan tersebut. Sepertinya juga di tulis oleh anak muda. Bahasanya itu lho. Waduh, anak muda Indonesia sekarang jadi seperti ini. jadi kekiri-kirian gini? Betapa nada tulisan dan refrensi yang dipakai melandasi tulisan tersebut mengingatkannya pada bacaan kiri yang dulu pernah ia lahap. Pernah ia temui di situs-situs sosialis yang pernah ia buka. Matanya terlihat memerah.. nalurinya terusik. Indonesia bisa hancur kalau penerus negeri adalah pemuda-pemuda dengan pikiran kiri seperti ini. Tidak bisa dibiarkan!! Dengan cekatan dibalasnya lagi sanggahan tersebut. Ia harus menghabisi argumen itu. Anak kemarin sore aja sok tahu!! Udara ruangan tempatnya tinggal di Negeri Paman Sam yang ber AC sejuk itu jadi terasa gerah. Selesailah argumen ia tulis dan langsung posting. Mati kau!!! bathinnya. Pasti anak itu akan kelabakan mempersiapkan sanggahan balik. Senyum kemenangan tersungging di ujung bibirnya yang kehitaman karena nikotin. Meski rokok telah ia tinggalkan sejak setahun lalu. Di tunggunya sanggahan balik sambil mereguk kopi hitam. Tak juga kunjung ada sanggahan. Sambil menunggu, dibukanya situs-situs berita. Ia ingin tahu berita terkini dari negaranya, Indonesia. Kompas.com, detik.com, Tempo online. situs lokal yang lumayan bisa ia pakai sebagai refrensi dan mendapatkan sumber berita. Di kliknya lagi milisnya.. duh.. belum juga ada sanggahan balik. Ia berharap perdebatan bisa berjalan terus. Lumayan, bisa menjadi pelampiasannya. Setelah pening dengan tesis yang tak kunjung usai.
Detik, bergerak ke menit, kemudian ke jam.. nah ada balasan. Ia terlonjak... segera perhatiannya tertuju ke tulisan sanggahan itu. Di tulis oleh penulis awal yang tadi melontarkan topik. Dibacanya dengan cermat! Aduh!! Mulutnya gemeletuk melihat tulisan itu. Nada-nada kekirian kental dalam hampir separuh jawaban. Refrensi penulis-penulis sosialis menjadi rujukan jawaban itu. Huh.. tak bisa di biarkan!! Kegeraman langsung membuhul..tangannya terlihat gemetar… “pikiran ngawur!!” Batinnya, belum lagi ia membalas tulisan tersebut.. meluncur lagi sanggahan balasan, dari orang lain lagi, tetapi tetap dengan nada sama.. Wacana sosialisme!! Pikiran kiri!! Celaka!! Indonesia telah di cengkeram komunis!! Gila!! Pikirnya.. reformasi betul-betul melahirkan bayi-bayi komunis pikirnya meradang!.. menyuburkan pikiran kiri!! grhmm… kegeraman bertumpuk di kepalanya… terbayang tokoh idolanya yang kini telah renta.. wajah halus dan tenang bicara itu.. hal ini tak akan terjadi kalau ia masih berkuasa, batinnya. Kalau ia tidak terjebak krisis ekonomi, indonesia pasti masih seperti dulu. Indonesianya yang sejuk, tidak ada pemberontakan, steril dari pikiran macam-macam.. racun sosialis pasti tak akan tertumpah.. meracuni belia-belia yang mencari jati diri.. Balasan tulisan kemudian menderas susul menyusul, lagi.lagi.. dan lagi…. tulisan dengan masih bernada sama, wacana kekirian, élan sosialisme yang menggebu-gebu!! TidakkK!!! Tak terasa ia berteriak sendiri. Kepalanya meriuh pepat!!. Lantai seperti miring..menggoyahkan kedudukannya di kursi. Ia limbung…
”Ada apa Pap???“Suara isterinya terdengar dari luar kamar. Menyadarkannya. Dilihatnya istri tercinta tergopoh-gopoh masuk kamar masih menenteng belanjaan. “Ada Apa Honey??” Kembali istrinya mengulang pertanyaan sambil memegang bahunya.. wajahnya yang semula memucat kembali berdarah memerah.. seperti senja yang telah menjelang.. Kesadaran yang sempat hilang dalam seperdetik umurnya itu kembali lagi.. “Tidak ada apa-apa Mam…” jawabnya.. Sambil memeluk mesra istrinya…………
  | hmmmmmmmm....... ngomong2 alenia kedua panjang banget....hiks...
Man, jere komputer layout mau diberin...kapan? |
 | kenapa senjanya merah ya? (*hmmm hmmm...) |
 | hoooo...ya...ya.... (*manggut-manggut) |
Comment deleted at the request of the author.
 | Banyak yang ngasih bintang empat tuh. Berarti sudah jadi jendral dong. selamat ya ndral? |
 | yuda wrote on Jul 26, '05 semua tempat dan kejadian dalam cerita ini tidaklah nyata dan hanya rekaanku sajah.. begitu...  cerita fakta atau fiksi? kata Pak Ignas Kleden, hampir tidak ada bedanya antara fakta dan fiksi dalam karya sastra, hatta dalam etnografi antropologis..:) |
 | yuda wrote on Jul 26, '05 hatta? hatta muhammad hatta? ato hatta rajasa?  ah kang Ing ini becanda ajah..:) |
 | yuda wrote on Jul 26, '05 (tambahan, foto Mbah Suharto dari majalah Tempo).  gmbarnya bagus bangeeetttt. |
 | Mas.... spasinya dijadiin 1,5 gitu kek ... pusing bacanya ... |
 | ingwuri wrote on Jul 26, '05, edited on Jul 26, '05 Mas.... spasinya dijadiin 1,5 gitu kek ... pusing bacanya ...  Iya nih. di kontrol 'J' juga dab [ini bahasa word lho ya]. terus dikasih paragraph. kasih dropcap juga bagus. |
 | yuda wrote on Jul 26, '05 jadi kayak baca bourdieu.  ada apa dg boudieu? orang perancis itu kah? |
 | yuda wrote on Jul 27, '05 pierre bourdieu, mantan rektor college de france. tulisannya bikin lieur. satu paragraf penuh tanpa titik he he he...  ooh.... aku juga suka pikiran2nya. tapi aku blom sempat baca buku2nya. tuh buku2nya masih nongkrong di rak.:) |
 | Kangen, ya, Mas, sama si Mbah? pake maja fotonya segala... |
| |