Lelaki itu dengan mata sembab dan emosi yang ditekan, mencekik anjing kesayangannya yang sudah terinveksi virus.justru di hari ulang tahunnya. Sebuah kado yang menyesakkan. Tidak ada dramatisasi berlebihan.. Cukup dengan permainan mimik / ekspresi wajah. Emosi bisa terbaca. Betapa waktu 3 tahun telah terlewati dengan si anjing itu. yang tidak lagi sekedar hewan piaraan. Ia menggantikan apa yang dulu pernah dimiliki. Keluarga tercinta. Anak dan istri yang tewas saat berusaha di evakuasi.
Sisi-sisi manusiawi kita, yang selalu butuh orang lain dalam menjalani hidup, tergambar dengan sangat bagus dalam beberapa adegan. Lihat saja saat Robert Neville berdialog dengan manekin di toko DVD, atau saat ia memandikan si anjing sambil mendengarkan Redemption Songnya Bob Marley. Separuh, bahkan lebih dari film ini berisi monolog Will Smith sebagai Robert Neville, sang Virologi. kemampuan mengemas ackting benar-benar di pertaruhkan, dan Will Smith mampu menunjukkan kelasnya, sehingga membuahkan hasil yang menurutku sekelas dengan film terdahulunya, Pursuit of Happines.
Cerita fiktif tentang punahnya ras manusia di New York akibat virus mematikan di tahun 2009 ini mengalir dengan adegan-adegan yang seperti sepotong-sepotong. Tak ada adegan panjang dengan niatan menjelas-jelaskan. Tetapi, justru disitulah "nikmatnya" film ini. beberapa adegan kilas balik pun dibuat sepenggal-sepenggal. Seperlunya. tetapi cukup mampu menjelaskan keseluruhan isi cerita
Sebenarnya, sudah lama aku ingin liat film ini, tapi bayang-bayang Pursuit of Happines masih lekat di kepalaku, dan aku takut akan menuai kecewa saat membandingkannya dengan film ini. Akankah Will Smith mampu menghasilkan akting sekelas film sebelumnya itu? Dan semua keraguan itu hilang.. Will Smith tetap hebat.