"Tak ada lelaki yang benar-benar mencintai perempuan, yang ada hanyalah: mereka masih membutuhkanmu!"
Cerita kemudian mengalir.. Lewat tutur seorang ibu kepada anaknya.. tentang kegetiran hidup yang timpa - menimpa. Kisah carut marut hidup yang seakan-akan memang sudah takdir. terbawa dari kampung kelahiran yang seakan sudah dikutuk Tuhan untuk lekat dengan kesengsaraan. Gunungkidul, daerah tandus dengan alam berkapur dan kekeringan sepanjang tahun..
Februana fasih menuturkan segala hal yag berhubungan dengan kehidupan di bukit kapur itu. Tentang pulung gantung yang merupakan "pepesthen urip" dimana malapetaka telah digariskan.. Gerombolan serigala jadi-jadian yang membantai ternak.. juga seputar peristiwa tahun 1964 yang rupanya banyak menelan korban di wilayah gunungkidul...semua terjalin dalam sebuah rangkaian cerita kehidupan manusia bernama Tini.. gadis ayu bernasib malang...
gadis dengan kecantikan khas Gunung kidul (yang terkenal dengan kemolekan alami gadis2nya).. harus menjalani pasang surut kehidupan yang bisa jadi diakibatkan oleh kecantikan fisiknya. Ia di"jual" oleh suaminya di panti pijat.. yang ternyata adalah milik lelaki yang dulu pernah hampir memperkosanya.
cerita berlanjut dengan penggambaran sarkas tentang hasrat birahi yang ternyata dengan banal memanipulasi cinta.. Cinta hanyalah topeng manis untuk meraih tujuan akhir.. pemenuhan hasrat birahi... lagi-lagi..wanitalah korbannya.. kemudian sang wanita berontak... dengan pisau ditangan.. dengan dendam di ubun-ubun...dan laki-laki tersungkur..!! kemudian...kayaknya lebih asik kalau anda baca sendiri lanjutannya... bukan begitu.....
Terima kasih atas segala perhatian, tanggapan, komentar teman-teman. Jangan lupa baca juga ulasan oleh Rieke Diah Pitaloka di VRH. Salam: Ngarto Februana (http:www.geocities.com/ngartofebruana)