| |
Aku ada di tempat itu. sebuah kafe buku dengan layanan hotspot (yang sialnya bermasalah.) yang terletak di Jl. Margonda. Siang itu kami akan membincangkan rencana membuat web untuk LSM kami.
Bertiga duduk di selasar depan yang sejuk, dikitari taman buatan yang lumayan resik. Saat kami datang, tamu tak begitu banyak. Hanya kami dan seorang ibu muda yang asik memelototi laptopnya sambil tak henti-henti mengepulkan asap rokok.
Saat asik membincangkan desain web yang kami rencanakan, tiba-tiba masuk sepasang anak muda. Seumuran mahasiswa. Seorang cowok berkacamata bertampang manis-manis culun, dan seorang gadis berjilbab lebar. Sepasang anak muda yang tak begitu mencolok penampilannya. Mereka mengambil posisi di sudut tepat jam 12 dari arah pandangku. Aku leluasa mengamati mereka. Sambil ngobrol bertiga, mataku selalu saja tak sengaja tertumbuk ke tingkah 2 orang itu. Yang awalnya tak menampakkan perilaku aneh. Sampai kemudian, saat ake melihat kearah mereka, kulihat sigadis mengeluarkan jumper dan mengenakannya. Rupanya untuk menutupi jilbab lebarnya. Dengan mengenakan jumper tersebut, penampakan jilbabnya tersamar. Adegan kemudian adalah... 2 makluk culun itu tambak saling merangkul dan.. Mulut mereka saling beradu. Disiang terik ini. Ditengah suasana kafe dengan beberapa orang di dalamnya. Hilang sudah kesan "rohis" yang tadi terpampang. berubah menjadi pemandangan laiknya muda-mudi sekarang yang ekpresif dan tak malu-malu.
Entah, yang terbayang dikepalaku kemudian adalah, bagaimana kalau orang tua si gadis tersebut tahu? Yang kubayangkan lagi, pasti gadis itu dirumah adalah anak yang alim. Dengan tampilannya yang terjaga. Terutama hijab lebar itu. Kemudian lagi, apakah pilihannya berhijab itu benar-benar muncul dari hati? Atau karena lingkungan dia? atau jangan-jangan bentukan orangtuanya? Kuturunkan pandanganku kearah kaki si gadis. kaos kaki panjang dikenakannya. Standar sebagai gadis yang menyakini bahwa aurat harus ditutup jelas melekat di tampilan fisiknya. Semua itu berbanding balik dengan kelakuannya.
Aku tak lama memperhatikan mereka, karena diskusi kami mulai fokus ke pekerjaan. Hal-hal teknis yang harus aku jelaskan ke temanku yang akan mengerjakan web. Juga melihat refrensi beberapa web dengan tampilan minimalis sesuai kesepakatan kami.
Saat makanan yang kami pesan datang, lagi-lagi mataku tertuju ke arah jam 12. Kini mereka sudah tidak lagi berhadap-hadapan. Si lelaki sudah berjejer sambil memelototi laptop. Sementara si gadis sudah menyandar mesra di pundak dengan tangan melingkar di leher sang kekasih. lengket sekali. laiknya amplop dengan perangkonya.. Betapa indah dunia..
 | ning eman eman jilbab-e.. :) |
 | nyebahi!! nek dadi gus hiddink rasane piye yoo? l |
 | wooo.. kampanye.. bayarrr!! |
 | wis rampung kok Pilgube :p |
 | tampilan luar ga selalu menggambarkan isikan mas :D |
 | Mas Jumper tuh apaan sih? Ndeso tenan aku ya :-( |
 | Man.. wingi aku yo entuk koyo ngono kuwiii.. wuihhh.. pas ngarepku nehhh.. kok dadi aku sing isin yo? :D |
| |
|