Asap itu menggulung menerpa mukaku. Asap aneh yang rasanya tidak asing di indera penciumanku. Aku masih setengah sadar. Mataku setengah terbuka. Waktu tidurku sepertinya takkan nyaman lagi. Terusik oleh bau aneh yang pernah lekat denganku. Ya.. bau asap itu.. Ia menerbangkan ingatanku pada reriungan tahun 90an. lamat-lamat.. hamparan sawah itu. Juga orang-orang bersahaja yang sehari-hari kutemui. Di sebuah desa kecil di kabupaten Banjarnegara. Saat aku mengikuti kegiatan KKN sebagai prasarat kelulusanku.
Saat malam beranjak dingin, asap itu seperti menghangatkan. Mengepul dari salah seorang kawan yang selalu seperti meracuni kami. Kemudian diedarkannya lintingan itu kepada kami berempat yang sambil cekikikan mengulum aroma itu. Entah, insting tertawa kami jadi berlebihan. Hal kecil yang sebenarnya tidak lucu menjadi heboh seperti melihat atraksi Jojon dengan tingkah bloonnya. Atau melihat charlie caplin yang lintang pukang dengan tingkahnya yang enggak banget. Segalanya menjadi lucu bagi kami yang seperti kesambet jin iprit.
Kemudian, kembali Ingatanku berpindah, pada satu peristiwa yang membuat aku ketakutan setengah mati. Saat itu aku masih di jogjakarta. Aku melintas di jalan malioboro. Tiba-tiba ada seorang kawan melambai dari selasar kaki lima Malioboro. Rupanya ia ingin menumpang motorku. Waktu itu kebetulan tujuan kami sama. Ke kosan daerah kadipaten kidul. Saat melewati perempatan yang banyak polisi, tiba-tiba kawanku menyuruhku untuk tancap gas. Padahal lampu masih merah. Aku santai saja. Pakai helm 2 ini. Tidak akan ditilang polisi lah. Tapi, temenku yang di belakang kelihatan kalang kabut. Dari kaca spion ku intip wajahnya memucat. Ada apa sih?. Sampai kos2an baru kutanya ke anak itu. Rupanya, di dalam tasnya terdapat ganja 1 kilo yang terbungkus Koran. Pas di perempatan tadi rupanya ia ketakutan kalau sampai ke “gep” polisi. Terang saja aku mencak-mencak. Hampir kupukul kawanku tersebut. Lah.. kan cilaka 12 kalau sampai tadi kami tertangkap. Sedang aku tak tau apa-apa. Kumaki-maki sampai puas kawanku tersebut. Sejak saat itu, aku jadi “parno” dengan sesuatu yang berkaitan dengan ganja.
Aku tergeragap bangun.. ya.. Asap itu pasti cimeng.. ada yang nyimeng di rumahku..
Kulihat di pojokan, salah seorang kawan yang nginap dirumahku asyik menyedot rokok lintingan. Amarahku mengepul di ubun-ubun.. “lo nyimeng ya!?” bentakku geram.. Anak itu kaget. “Kaga mas.. “ jawabnya dengan suara tergetar.. Kuperhatikan rokok yang dilintingnya. Anak itu tertawa.. “Ini lintingan puntung rokok mas. Gara-gara rokok abis.” katanya sambil cengengesan. Aku pun ikut terbahak. Rupanya anak itu kehabisan rokok, kemudian memungut puntung yang ada di asbak, kemudian mengumpulkan tembakaunya dan melinting kembali dengan shelai tissue.
"Anjrit.." Dasar perokok kronis..