
2 kali aku beli bensin eceran di warung itu. Penjualnya seorang bapak berkopiah hitam dengan 2 anak masih ingusan dan sering terlihat dijejalkan dalam warung tersebut.
Di dalam warung itu, kulihat logo hewan bermoncong merah garang diapit gambar mantan presiden dan burung menengok kearah kanan memakai tameng.
Sepertinya seorang nasionalis!
Tetapi, hari ini kulihat warung itu berubah. Bekas botol Coca Cola 1 literan itu tampak berjajar rapi di lantai bawah warung mungil sederhana yang menempel di pagar luar komplek margo City itu. Ya, botol-botol itu kemarin adalah tempat bensin eceran yang biasanya dipajang di luar warung kecil tersebut. Beberapa hari ini, semenjak pom bensin tidak melayani pembelian bensin dengan jerigen, warung itu tidak menjual bensin eceran lagi. Tampilan warung itu juga tampak berubah. Disiplay bensin sudah hilang, berganti lemari kaca kotak dengan beraneka merek rokok didalamnya, serta sekotak tempat minuman dingin menyanding didekatnya.
Sebuah perubahan “revolusioner!” Menurutku sih. Gambaran bahwa si pemilik warung ternyata sangat adaptif. Saat bensin tak bisa dijual, ya ganti jual rokok.. “ yang penting halal bung!!” Dan tidak menyerah oleh keadaan. Bisa jadi, itu suara hati bapak berpeci hitam itu (sotoy :P)
Sebuah semangat bertahan hidup yang menurutku tidak main-main. Yang ditujukkan oleh kaum kecil dan sering dikecilkan. Yang diperhatikan dan diperebutkan partai hanya setiap dibutuhkan suaranya, baik untuk pemilihan lurah, gubernur, atau presiden.
Gambaran betapa kaum yang diangap lemah di negeri ini ternyata bukan golongan yang mudah menyerah oleh keadaan. Bukan makluk-makluk cengeng yang sedikit-sedikit demo. Kaum yang bergerak di sektor yang sangat riil dan kongkrit, dan bisa jadi selama ini tak tersentuh subsidi BBM. Kalaupun tersentuh paling kalau pas dapat kupon tunjangan tunai langsung, yang sering tidak merata pembagiannya. Dan terbukti tak efektif memperbaiki keadaan. Yang menggeliat sendirian. Melata tapi waspada karena setiap saat bisa diterkam oleh makluk bernama tibum. Oleh kebijakan serampangan yang tak pernah menyentuh mereka.
Ditempat berbeda, sembari makan nasi berlauk daging, ditemani soft drink. Kudengar obrolan dua orang dengan tampilan lumayan. Mahasiswa S2 UI yang beberapa kali kutemui makan diwarung langgananku ini. Mereka sedang memprediksi berapa harga BBM pada juni nanti. 6 ribukah? Atau 7 ribu, dengan wajah kawatir. Dengan segala teori ekonomi yang mereka kuasai. Membandingkan pendapat Faisal Basri dan Srimulyani yang pro kenaikan, dengan pendapat beberapa pakar lain yang menolak kenaikan. Dengan segala pengetahuan modern mereka yang canggih.
Hmm... Sepertinya 2 orang itu wajib belajar dengan bapak berpeci hitam pemilik warung mungil itu. Melupakan kelas S2 UI yang sedang mereka tekuni selama ini.
Bukan belajar teori ekonomi, tetapi belajar cara bertahan hidup yang benar dan halal. Seperti telah ditunjukan oleh bapak berpeci hitam itu
(catatan menyambut 100 tahun kebangkitan nasional)