
(sebuah catatan untuk menyemangati diri sendiri:P)
Satu hal yang hampir saya lewatkan setelah bergelut 2 tahun lebih di lapas anak adalah adalah. Memakai kacamata etnografi dalam mencatat dan mencermati siklus kehidupan yang berlangsung dibalik teralis besi.
Lapas anak Tangerang, sebagaimana lapas-lapas lainnya, memiliki pola kehidupan yang secara alamiah membentuk suatu "aturan adat" dengan berbagai tata cara dan tradisi yang unik. Mencermati lapas anak dengan beberapa hal unik yang muncul di dalamnya seperti tradisi “guyur” saat ada anak akan bebas, kemudian ritual “gaulan” sebagai media mengakrabkan diri satu dan lainnya, merupakan produk budaya yang menurut saya bisa disandingkan dengan Tradisi potong rambut, atau tradisi mengisap pipa cangklong secara berkeliling di dalam suku indian.
Kalau mau melihat sebuah negeri kecil dimana disana ada representasi dari lagu kebangsaan, presiden, menteri, ada kepala-kepala daerah. juga sebuah prasarat mutlak untuk berdirinya sebuah negara, yaitu ada wilayah. Nah, semua itu bisa ditemukan di lapas anak. Bahkan bahasa ibu (bisa diwakili oleh bongseng, bahasa isyarat khas anak-anak lapas) menguatkan semua itu. (perlu dicatat pula, dilapas anak penghuninya terdiri dari berbagai latar belakang, baik suku ataupun agama, bahkan daerah kekuasaan)
Dari hal-hal tersebut diatas, kemudian mendorong saya untuk mengubah sudut pandang dalam merencanakan buku yang sedang saya kerjakan. Selama ini saya sekedar mencatat apa yang saya rasakan selama berinteraksi dengan anak-anak, menjadi kumpulan tulisan curhat yang sangat biasa. Sampai kemudian kemarin, saya mendapat “pencerahan” dari seorang teman. Tak cuma pencerahan, tetapi juga dorongan dan kesediaan untuk mengedit tulisan saya yang cakadut itu menjadi sebuah buku dengan pendekatan etnografis..Dengan penuh semangat teman saya itu memberi refrensi karya-karya V.S Naipul, salah satunya A House for Mr. Biswas, sebagai contoh novel etnografi yang bagus. “Trims kawan.”
Pencatatan dan wawancara pun mulai saya lakukan, kali ini dengan penuh kesadaran. Sebelumnya saya juga punya “pola interogasi” dengan anak-anak, tetapi tidak terencana dan berstruktur. Dengan outline yang saya buat, mulailah bak detektif, saya mengamati pola laku mulai dari petugas, sampai anak-anak sendiri.
Wawancara ulang mengenai beberapa tradisi yang ada di lapas dengan para pelakunya, semisal soal ritual guyur. Juga soal sejarah bongseng, yang ternyata tidak terjawab oleh anak-anak. Jawaban mereka sama, mewarisi dari senior. Diajarkan dari satu orang ke orang lain. Bahkan ketika ditanya artinya pun rata-rata tidak bisa menjawab. Justru mereka yang nanyak balik ke saya. Bukan tanya soal bongseng, tetapi menanyakan, kenapa saya jadi berubah mirip detektif kesiangan atau reporter telat liputan.. jadi suka nanya-nanya sesuatu yang bikin pusing. Halah..:P
Saya yang biasa cuek jadi berubah sok tau dan sampai dibela-belain bawa recorder buat mendengarkan ocehan mereka.. hehehe..
saya yang biasanya kalau datang paling langsung menuju ruangan curhat, tempat dimana kelas komik curhat berlangsung .. membuka tas.. membagi kertas dan alat gambar.. memberi tugas yang harus dikerjakan, kemudian kadang dengan kurang ajarnya minta dipijitin anak-anak, atau malah “mlungker" tidur nungguin anak-anak selesai gambar, diselingi curhat ringan asal-asalan. .. tiba-tiba jadi serius.. ya gimana tidak dianggap aneh.. hehehe. Untungnya anak-anak cepat menangkap maksud saya, setelah saya jelaskan.
Yang jelas saya sedang menabur mimpi.. Tiba-tiba saya seperti punya gairah baru. Benar-benar baru... Dengan kesadaran baru pula.. Untuk menyelesaikan sebuah karya.. Yang moga-moga bisa memberi manfaat dan membuka cakrawala baru tentang penjara anak di sisi kota Tangerang ..
Sebuah karya sedang saya kerjakan.. Sebuah "Narasi dari balik teralis."
catatan:
makasih buat uye untuk masukannya.."piss bu..:P"