Gara-gara nulis jurnal tentang ebiet, kenanganku akan masa lalu. Masa kecilku di kampung nglembu seakan “mubal.” Meruyak.. dan, sayang kalau tidak kucatat.
Karena ingatan ini rasanya makin pendek saja.
Ini tentang seorang lelaki gempal. Dengan tato di lengannya. Dengan wajah yang seram untuk ukuran kami, bahkan orang dewasa sekalipun.
Anak rumahan kayaknya bisa langsung step seperti orang kesambet dedemit kedung, kalau berani menatap wajahnya.
Lelaki itu, sangat ditakuti di kampung kami. Se-kecamatan Kretek bisa jadi kenal dengan lelaki ini. “gali” kata orang-orang.
Kerap kujumpai ia ngobrol di ladang tebu samping dusun. Bercakap akrab, dengan Wo Cokro, uwak jauhku. Kadang juga, ia datang ke rumahku. Menemui kakek. Entah apa yang mereka bincangkan. Pantang bagiku menguping pembicaraan kakek. Kalau ketahuan ibu. Bisa babak belur aku. Dosa besar menguping pembicaraan orang. Begitu prinsip ibuku.
Pernah juga kulihat ia bercakap dengan Mandor tebu. Yang juga sangat aku takuti.
Ada cerita yang berkaitan dengan mandor galak itu. Pernah suatu ketika, Aku, Pangat, Domber, 2 sobat kentalku “blusukan” ke kebon tebu. Namanya juga anak-anak. Saat keluar dari kebon tebu, ditangan kami sudah tertenteng masing-masing empat lonjor tebu. Saat berjalan menuju rumah itulah. Tiba-tiba saja, sang mandor sudah tegak di depan kami. Dengan tatapan bengisnya. Kami seperti tikus yang siap diterkam kucing garong. Pangat langsung pucat. Domber terkencing-kencing. Aku gemeteran tak karuan. Serasa copot jantung ini. Dan... satu-satunya jalan... “lariiiii..”
Lintang pukanglah kami.. Cerai berai masuk dusun.. Aku ngumpet di kolong langgar yang memang berbentuk panggung. Pangat nyungsep di kandang sapinya. Sementara Domber “ndepis” di dalam “jugangan” bekas kedung.
Sampai 4 jam baru kami berani pulang. Sudah jatuh tertimpa tangga. Saking lamanya ngumpet, aku terlambat pulang. Harusnya aku sampai rumah sebelum magrib, karena tugasku adalah mengantar kakek ke masjid. Sebelum masuk jam magrib kakek sudah harus di masjid, karena beliau adalah imam. Dan aku.. cucu bengalnya terlambat pulang. Bisa dibayangkan, betapa marahnya ibuku. Pantatku dihajarnya dengan sapu lidi. Sampai aku melolong-lolong tak karuan...
Kemudian, diwaktu yang lain, aku lagi-lagi ketemu dengan mandor itu. Matanya tajam menatapku.. penuh selidik. Aku langsung pucat-pasi. Tiba-tiba, muncul lelaki itu. Ditangannya memegang satu lonjor tebu yang sudah terkupas. Ia memanggilku.” le.. gelem tebu ora? Mrene.” Seperti malaikat kehadirannya. Aku bergegas meninggalkan pak mandor, mendekatinya. Kusambar tebu yang diangsurkannya. Saat itulah, aku melihat, ada tato lain selain yang ada di lengannya. Tato dalam huruf arab, yang suatu saat setelah aku melek huruf arab, ku tahu.. itu kalimat “laila hailallah” tato yang aneh.
Tahun 1984.. Aku meninggalkan dusun kecil itu. Meninggalkan Domber, Pangat, Danang, pardi, Udin dan Kang Tubi, nama lelaki gempal itu. Semua itu setelah kematian kakek.. Beliau wafat. kemudian disusul ibu.. beberapa bulan kemudian.
Aku pindah ke kota Jogjakarta, dimana ayah dan kakak-kakaku tinggal. Aku menjadi anak kota, yang kemudian jadi agak asing saat datang ke dusunku.
Suatu saat, aku berkunjung ke dusun itu, dan bertemu Udin, salah satu temanku. Ia bercerita soal kang Tubi. Katanya, kang Tubi hilang dari dusun.
“kena Petrus!”
Ya. Kang tubi cukup punya syarat untuk “dilenyapkan.” Dengan tato di lengannya. Juga cap “Gali” yang disandangnya..
Yang kubayangkan kemudian adalah.. “DORRRR!!.” Kang Tubi terkapar.. Tanpa pembelaan.