 ada yang mau ikut?
Aku ada di tempat itu. sebuah kafe buku dengan layanan hotspot (yang sialnya bermasalah.) yang terletak di Jl. Margonda. Siang itu kami akan membincangkan rencana membuat web untuk LSM kami.
Bertiga duduk di selasar depan yang sejuk, dikitari taman buatan yang lumayan resik. Saat kami datang, tamu tak begitu banyak. Hanya kami dan seorang ibu muda yang asik memelototi laptopnya sambil tak henti-henti mengepulkan asap rokok.
Saat asik membincangkan desain web yang kami rencanakan, tiba-tiba masuk sepasang anak muda. Seumuran mahasiswa. Seorang cowok berkacamata bertampang manis-manis culun, dan seorang gadis berjilbab lebar. Sepasang anak muda yang tak begitu mencolok penampilannya. Mereka mengambil posisi di sudut tepat jam 12 dari arah pandangku. Aku leluasa mengamati mereka. Sambil ngobrol bertiga, mataku selalu saja tak sengaja tertumbuk ke tingkah 2 orang itu. Yang awalnya tak menampakkan perilaku aneh. Sampai kemudian, saat ake melihat kearah mereka, kulihat sigadis mengeluarkan jumper dan mengenakannya. Rupanya untuk menutupi jilbab lebarnya. Dengan mengenakan jumper tersebut, penampakan jilbabnya tersamar. Adegan kemudian adalah... 2 makluk culun itu tambak saling merangkul dan.. Mulut mereka saling beradu. Disiang terik ini. Ditengah suasana kafe dengan beberapa orang di dalamnya. Hilang sudah kesan "rohis" yang tadi terpampang. berubah menjadi pemandangan laiknya muda-mudi sekarang yang ekpresif dan tak malu-malu.
Entah, yang terbayang dikepalaku kemudian adalah, bagaimana kalau orang tua si gadis tersebut tahu? Yang kubayangkan lagi, pasti gadis itu dirumah adalah anak yang alim. Dengan tampilannya yang terjaga. Terutama hijab lebar itu. Kemudian lagi, apakah pilihannya berhijab itu benar-benar muncul dari hati? Atau karena lingkungan dia? atau jangan-jangan bentukan orangtuanya? Kuturunkan pandanganku kearah kaki si gadis. kaos kaki panjang dikenakannya. Standar sebagai gadis yang menyakini bahwa aurat harus ditutup jelas melekat di tampilan fisiknya. Semua itu berbanding balik dengan kelakuannya.
Aku tak lama memperhatikan mereka, karena diskusi kami mulai fokus ke pekerjaan. Hal-hal teknis yang harus aku jelaskan ke temanku yang akan mengerjakan web. Juga melihat refrensi beberapa web dengan tampilan minimalis sesuai kesepakatan kami.
Saat makanan yang kami pesan datang, lagi-lagi mataku tertuju ke arah jam 12. Kini mereka sudah tidak lagi berhadap-hadapan. Si lelaki sudah berjejer sambil memelototi laptop. Sementara si gadis sudah menyandar mesra di pundak dengan tangan melingkar di leher sang kekasih. lengket sekali. laiknya amplop dengan perangkonya.. Betapa indah dunia..
 | "parno" | Jun 17, '08 10:45 AM for everyone |
Asap itu menggulung menerpa mukaku. Asap aneh yang rasanya tidak asing di indera penciumanku. Aku masih setengah sadar. Mataku setengah terbuka. Waktu tidurku sepertinya takkan nyaman lagi. Terusik oleh bau aneh yang pernah lekat denganku. Ya.. bau asap itu.. Ia menerbangkan ingatanku pada reriungan tahun 90an. lamat-lamat.. hamparan sawah itu. Juga orang-orang bersahaja yang sehari-hari kutemui. Di sebuah desa kecil di kabupaten Banjarnegara. Saat aku mengikuti kegiatan KKN sebagai prasarat kelulusanku.
Saat malam beranjak dingin, asap itu seperti menghangatkan. Mengepul dari salah seorang kawan yang selalu seperti meracuni kami. Kemudian diedarkannya lintingan itu kepada kami berempat yang sambil cekikikan mengulum aroma itu. Entah, insting tertawa kami jadi berlebihan. Hal kecil yang sebenarnya tidak lucu menjadi heboh seperti melihat atraksi Jojon dengan tingkah bloonnya. Atau melihat charlie caplin yang lintang pukang dengan tingkahnya yang enggak banget. Segalanya menjadi lucu bagi kami yang seperti kesambet jin iprit. Kemudian, kembali Ingatanku berpindah, pada satu peristiwa yang membuat aku ketakutan setengah mati. Saat itu aku masih di jogjakarta. Aku melintas di jalan malioboro. Tiba-tiba ada seorang kawan melambai dari selasar kaki lima Malioboro. Rupanya ia ingin menumpang motorku. Waktu itu kebetulan tujuan kami sama. Ke kosan daerah kadipaten kidul. Saat melewati perempatan yang banyak polisi, tiba-tiba kawanku menyuruhku untuk tancap gas. Padahal lampu masih merah. Aku santai saja. Pakai helm 2 ini. Tidak akan ditilang polisi lah. Tapi, temenku yang di belakang kelihatan kalang kabut. Dari kaca spion ku intip wajahnya memucat. Ada apa sih?. Sampai kos2an baru kutanya ke anak itu. Rupanya, di dalam tasnya terdapat ganja 1 kilo yang terbungkus Koran. Pas di perempatan tadi rupanya ia ketakutan kalau sampai ke “gep” polisi. Terang saja aku mencak-mencak. Hampir kupukul kawanku tersebut. Lah.. kan cilaka 12 kalau sampai tadi kami tertangkap. Sedang aku tak tau apa-apa. Kumaki-maki sampai puas kawanku tersebut. Sejak saat itu, aku jadi “parno” dengan sesuatu yang berkaitan dengan ganja. Aku tergeragap bangun.. ya.. Asap itu pasti cimeng.. ada yang nyimeng di rumahku.. Kulihat di pojokan, salah seorang kawan yang nginap dirumahku asyik menyedot rokok lintingan. Amarahku mengepul di ubun-ubun.. “lo nyimeng ya!?” bentakku geram.. Anak itu kaget. “Kaga mas.. “ jawabnya dengan suara tergetar.. Kuperhatikan rokok yang dilintingnya. Anak itu tertawa.. “Ini lintingan puntung rokok mas. Gara-gara rokok abis.” katanya sambil cengengesan. Aku pun ikut terbahak. Rupanya anak itu kehabisan rokok, kemudian memungut puntung yang ada di asbak, kemudian mengumpulkan tembakaunya dan melinting kembali dengan shelai tissue. "Anjrit.." Dasar perokok kronis..
Cemara Segelas kopi Dan sejumput kenangan Pada sebuah perjalanan yang gamang Juga larik cemara yang mendengking aneh Seaneh waktu, yang menjumpakan aku Pada sebuah pertemuan dengan kamu Di satu senja yang basah Kabut Saat senja tiba-tiba menjadi pekat Juga rindu yang mendadak Seperti hari ini Mungkin karena engkau kabut Atau mungkin Cinta ini semakin akut Angin Seperti angin.Mampat diperut Kemudian menjadi kentut Menyebarkan keresahan Pada satu hari yang nyaman Pada satu waktu yang sebenarnya kuihtiarkan Bukan untukmu Ya.. Kau menyerobot keasyikanku Melantakkan ritme yang kubangun sedari pagi Semua karut-marut Terdesak hentakan rasa Yang kata orang bernama… Cinta... betapa bodohnya
(depok minggu kemarin)
kejadiannya begitu cepat. aku sendiri tak menyadari, kalau yang bersimpangan denganku itu adalah si maling.
Jam 8 semalam, aku beli rokok di warung depan. karena jaraknya lumayan jauh, aku naik motor. setelah sejenak ngobrol dengan penjaga warung. aku balik ke kontrakanku di ujung. pas balik itulah aku berpapasan dengan 2 motor. 1 motor zupiter mx, satunya mio putih. wajah pengendara mio masih bisa kuingat sampai saat ini. sampai di rumah, salah seorang teman asik teponan dengan bokinnya. tepat di depan pintu pagar rumah. aku nyelonong aja masuk ke dalam.
dirumah lagi rame. anak-anak mantan lapas sedang ngumpul. mereka dulunya tergabung di band lapas. ceritanya lagi pada ngulik lagu baru. untuk persiapan rekaman demo. diantara anak-anak itu, ada si sena, dulu juga mantan lapas. ia mampir ke markas setelah seharian nyari gitar bas dan belum dapat. dialah si pemilik motor naas itu.
tak lama, temen yang tadi telponan masuk ke rumah. nanya ke sena. katanya ia lihat motor sena dipakai ama seseorang. kagetlah kami. lha anak-anak ada semua. ga ada yag pinjam motornya sena. kunci kontak juga tergeletak di deket rokok.
paniklah kami semua. aku baru ngeh. mio putih yangh tadi berpapasan adalah motornya sena. dengan panik kupacu motor mengejar si maling.. menyusuri gang-gang karet. prediksiku malingnya pasti tidak lewat jalan raya, karena ga pakai helm. sementara temenku yang lain menyisir sepanjang gang kapuk. dengan asumsi yang sama. si maling akan lewat jalan tikus.
satu jam ngubek-ubek.. tak ketemu juga.. akhirnya, kami putuskan lapor ke polisi.
pas di kantor polisi, problem baru muncul. sena, sang pelapor tidak bawa sim dan ktp. demikina juga saksiya, si padang. "wadaww".. padahal.. mereka mantan napi, yang gampang sekali untuk di curigai. sena sempat ditanya-tanya polisi perihal kasusnya. juga motivasi anak-anak kumpul di rumahku.. "pakaw bareng ya?".. "nonton bokep bareng ya?".. tuduhan-tuduhan ajaib itu dengan santai ditanggapi sena. dia menceritakan kalau anak-anak itu sedang berusaha untuk kembali berkegiatan yang positif. bahkan sedang merencanakan pendampingan untuk teman-teman yang masih bermasalah. sepertinya polisinya bisa ngeh. akhirnya, salah seorang teman mengambilkan ktp sena yang berdomisili di ancol.. depok - ancol.. memakan waktu juga. aku juga akhirnya ikut ke kantor polisi. jadi saksi pihak tuan rumah.
alhamdulilah.. meski agak lama, akhirnya selesai juga. selembar kertas surat bukti kehilangan sudah ditangan.
yang agak menyesakkan lagi adalah. hari itu adalah ulang tahun ibu sena, sang pemilik motor yang raib.
Tangannya terampil membolak-balik tempe mendoan yang kupesan. 6 buah tempe selebar telapak tangan orang dewasa itu tampak mengiurkan untuk segera di cocol dengan saus, atau ditemani cabe rawit ijo segar. slurupp..
Sambil menggoreng kami bercakap-cakap. Aku yang produk "sok tau" ini kemudian mendapat informasi banyak tentang bapak penjual mendoan ini. Suka-dukanya berjualan di Jl. lenteng agung yang terlalu mepet dengan jalan raya itu. Tram-tib yang selalu menjadi ancaman setiap saat. Preman kampung yang tak segan menggerogoti hasil kerjanya yang pas-pasan kalau tidak mau dibilang kembang kempis. Belum lagi beberapa oknum tentara yang suka minta "jatah preman", kalau tidak uang ya minta mendoan untuk teman minum. Total 15 ribu ia keluarkan untuk palakan-palakan itu.
Sedangkan penghasilannya saat ini sangatlah mepet. Dalam 1 malam, kadang ia bisa menjual 70-100 potong tempe mendoan, itu kalau lagi ramai. Kalau sepi seperti malam kemarin itu. Saat aku beli, ia baru menjual 5 potong tempe, ditambah pesananku 6 potong, total baru 11 potong, dikali seribu perpotongnya. Waktu aku beli tempe sudah jam setengah sembilan malam. Taruhlah ia buka sampai jam 11 malam. ia bisa menjual 50 potong lah. kemudian datang pemalak-pemalak itu. 3 orang masing-masing dikasih 5 ribu. sudah 15 ribu. penghasilanya yang 50 ribu dipotong 15 ribu. 35 ribu. untuk belanja? untuk keluarganya? Hidup dengan seorang istri dan 1 anak umur 5 tahun. Belum lagi harus bersiasat dengan kenaikan BBM. Sedangkan ia adalah pendatang yang tak tercatat sebagai penerima BLT. Misalnya ia menerima BLT yang seratus ribu itu, tetaplah tak cukup untuk mengatasi kenaikan harga yang pelan-pelan mencekik leher itu. Belum lagi ancaman penggusuran yang mengintai setiap saat.
"Mas.. Ada lowongan kerja tidak? jadi apa saja saya mau.. Tukang kebun kek, pesuruh kek, apa aja mas!" kata orang tersebut sambil mengangsurkan tempe mendoan yang sudah terbungkus plastik "Waduh!" Aku hanya garuk-garuk kepala.
 | lek man | May 23, '08 4:18 AM for everyone |
Lampu teplok itu. Dan kesadaran perih yang pernah temaram terbiasi. Nasi putih, pletikan bara api, sayur oseng, jadah bakar, juga dahaga yang akut. Segelas teh panas manis, dan sebatang rokok kretek murahan. Mengepul menghadirkan KAMU yang sederhana. Yang konon telah lenyap. merinduiMu, dalam takaran yang sederhana..
Ya.. sangat sederhana.
(catatan kecil buat angkringan tugu jogja (lek man) yang kabarnya digusur tramtib jogja)
Yang kemudian kubayangkan adalah, debu yang mengepul diudara, kemudian darah yang muncrat dimana-mana. Dua kelompok itu duel dengan serunya. Ditangan bocah itu tergenggam balok kayu yang diujungnya tertancap paku. Bayangkan jika itu kemudian melesak dikepala. Dan, memang itu kejadiannya. Salah seorang lawan menggelepar dengan luka menganga di kepala. Balok kayu berulang kali menghajar kepala lawan. Sampai kemudian tergeletak.. Mati! Ia sendiri babak belur dengan luka yang sama parahnya, tetapi masih belum mematikan.
Cerita-cerita seru itu muncul disela-sela wawancaraku dengan anak-anak peserta komik curhat, yang dalam minggu ini sedang mengumpulkan cerita yang berkaitan dengan perubahan yang dialami peserta komik curhat. Perubahan dari sebelum ikut kegiatan, sampai kemuidan ikut komik. sebenarnya, cerita perubahan itu menjadi tugas anak-anak untuk menuliskannya, tetapi, berhubung beberapa anak komik ada yang masih buta huruf. Ada juga yang susah kalau harus membuat sebuah esai yang mewakili perasaannya, maka diputuskan melakukan wawancara terhadap beberapa anak.
Cerita kemudian berkembang. Mungkin karena atmosfir mendukung. Cerita mengalir kemana-mana. Awalnya hanya menceritakan perasaannya setelah ikut kegiatan komik, kemudian "ngembet" mereka saling bercerita kasusnya. anak yang kasusnya "stut" (pelecehan seksual) menceritakan proses kenapa ia sampai memperkosa.
Ada juga yang menjadi korban, karena orang tua pacarnya marah gara-gara anak gadisnya kehilangan keperawanan oleh pacarnya. padahal, saat melakukan suka sama suka.Kemudian diadukan ke polisi dan terkena hukuman 4 tahun, untuk perbuatan yang dilakukan dengan sadar, penuh cinta dan suka-sama suka. (Gara-gara masih bocah aja mungkin. jadi inget kasusnya Rico ceper:P). Disini ketidak adilannya adalah, terhukum biasanya lelaki. Pemerkosa identik lakilaki, padahal bisa jadi terjadinya hubungan sex dipengaruhi faktor perempuannya.
kemudian, disusul cerita lainnya, mengalir dari mulut anak-anak itu, yang seperti mendapat saluran untuk sampah di otak mereka yang tersumbat. Kisah hidup mereka, yang selama ini bisa jadi menjadi beban menggunung di kepala mereka. Mulai dari kisah pencurian, perdagangan narkoba, pembunuhan, dan cerita tentang kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa.yang sudah kuceritakan diawal. Pertarungan dua kelompok berandal remaja, yang menyeret pelakunya mendekam di penjara selama 7 tahun. Waktu produktif selama remaja menjelang dewasa hilang sia-sia. terampas didalam teralis besi. menjadi pesakitan akibat salah mengelola emosi. Akibat gejolak muda yang sebenarnya wajar. meledak-ledak.. Sayang tak mendapat ruang ekpresi yang tepat. begitulah jadinya.
Dan.. Sore itu aku seperti mendapat "berkah." Mendengar cerita "curhatan" seru dari anak-anak yang dianggap bersalah itu. cerita tak ternilai harganya, yang sepertinya sayang untuk dibiarkan menguap. beberapa aku share disini. yang lebih sadis dan tak layak dibagi, kusimpan saja untukku sendiri..:D
Di sebuah rumah yang nyempil dalam keriuhan kampung bilangan jakarta barat. Sebuah kampung yang rapat. gang sempit, juga bau got. Aku menemukan mata itu. Milik seorang bapak tegap yang masih menyisakan kegantengan dan kegagahan, yang ia turunkan ke anak laki-laki bengalnya. Malam ini aku mengantarkan "jagoan"nya yang sudah berhari-hari tidak pulang. Sekalian silaturahmi yang memang kurencanakan, dengan orang tua anak-anak yang "singgah" di rumahku. Kalau mungkin, aku berusaha membantu "menyambungkan" komunikasi yang tersendat antara bapak dan anak ini. Sebuah perkenalan yang hangat dan bersahabat. juga perbincangan yang pada awalnya kubayangkan bakalan susah. Ternyata bisa mengalir cair. Sangat cair.
Anak itu bercerita betapa ia sering susah berkomunikasi dengan ayahnya, itu yang membuat aku membangun bayangan tentang seorang bapak yang tertutup. yang pasang muka sengkarut, dengan mata nyalang penuh curiga, Yang susah diajak bercakap tentang anaknya. Tetapi semuanya luntur setelah bertemu "beliau." Seorang bapak yag hangat, dengan tatapan mata lembut dan bersahabat. Yang sebenarnya mempunyai perhatian yang besar terhadap "jagoannya."
Apakah beban menanggung 5 anak yang membuat kehangatan bapak ini tak "sampai" ke anaknya ini?. Yang akhirnya membuat si jagoan ganteng itu "terjerembab" ke pusaran perdagangan obat bius di wilayah Jakarta barat, dan menyurukkannya masuk ke LP Anak Pria Tangerang? Atau jarak usia antara penggemar Linkink park dan bapak era koes plus ini yang membuat susahnya terjalin komunikasi antara mereka?
Entahlah. Yang jelas, malam ini aku sangat lega. ada garansi dari orangtua anak tersebut untuk akan menjaga, minimal akan berusaha untuk memberi ruang komunikasi agar si anak tak lagi seperti masuk gua sendirian dan akhirnya memilih balik lagi ke komunitas "gelap"nya. Semoga...

2 kali aku beli bensin eceran di warung itu. Penjualnya seorang bapak berkopiah hitam dengan 2 anak masih ingusan dan sering terlihat dijejalkan dalam warung tersebut. Di dalam warung itu, kulihat logo hewan bermoncong merah garang diapit gambar mantan presiden dan burung menengok kearah kanan memakai tameng. Sepertinya seorang nasionalis! Tetapi, hari ini kulihat warung itu berubah. Bekas botol Coca Cola 1 literan itu tampak berjajar rapi di lantai bawah warung mungil sederhana yang menempel di pagar luar komplek margo City itu. Ya, botol-botol itu kemarin adalah tempat bensin eceran yang biasanya dipajang di luar warung kecil tersebut. Beberapa hari ini, semenjak pom bensin tidak melayani pembelian bensin dengan jerigen, warung itu tidak menjual bensin eceran lagi. Tampilan warung itu juga tampak berubah. Disiplay bensin sudah hilang, berganti lemari kaca kotak dengan beraneka merek rokok didalamnya, serta sekotak tempat minuman dingin menyanding didekatnya. Sebuah perubahan “revolusioner!” Menurutku sih. Gambaran bahwa si pemilik warung ternyata sangat adaptif. Saat bensin tak bisa dijual, ya ganti jual rokok.. “ yang penting halal bung!!” Dan tidak menyerah oleh keadaan. Bisa jadi, itu suara hati bapak berpeci hitam itu (sotoy :P) Sebuah semangat bertahan hidup yang menurutku tidak main-main. Yang ditujukkan oleh kaum kecil dan sering dikecilkan. Yang diperhatikan dan diperebutkan partai hanya setiap dibutuhkan suaranya, baik untuk pemilihan lurah, gubernur, atau presiden. Gambaran betapa kaum yang diangap lemah di negeri ini ternyata bukan golongan yang mudah menyerah oleh keadaan. Bukan makluk-makluk cengeng yang sedikit-sedikit demo. Kaum yang bergerak di sektor yang sangat riil dan kongkrit, dan bisa jadi selama ini tak tersentuh subsidi BBM. Kalaupun tersentuh paling kalau pas dapat kupon tunjangan tunai langsung, yang sering tidak merata pembagiannya. Dan terbukti tak efektif memperbaiki keadaan. Yang menggeliat sendirian. Melata tapi waspada karena setiap saat bisa diterkam oleh makluk bernama tibum. Oleh kebijakan serampangan yang tak pernah menyentuh mereka. Ditempat berbeda, sembari makan nasi berlauk daging, ditemani soft drink. Kudengar obrolan dua orang dengan tampilan lumayan. Mahasiswa S2 UI yang beberapa kali kutemui makan diwarung langgananku ini. Mereka sedang memprediksi berapa harga BBM pada juni nanti. 6 ribukah? Atau 7 ribu, dengan wajah kawatir. Dengan segala teori ekonomi yang mereka kuasai. Membandingkan pendapat Faisal Basri dan Srimulyani yang pro kenaikan, dengan pendapat beberapa pakar lain yang menolak kenaikan. Dengan segala pengetahuan modern mereka yang canggih. Hmm... Sepertinya 2 orang itu wajib belajar dengan bapak berpeci hitam pemilik warung mungil itu. Melupakan kelas S2 UI yang sedang mereka tekuni selama ini. Bukan belajar teori ekonomi, tetapi belajar cara bertahan hidup yang benar dan halal. Seperti telah ditunjukan oleh bapak berpeci hitam itu
(catatan menyambut 100 tahun kebangkitan nasional)
Wajah Budiman Sujatmiko tersenyum menatap kearah penonton, menutup rangkaian kekonyolan-demi kekonyolan dari filem The Tarix Jabrix besutan Hanung bramantyo itu. Sekaligus lagi-lagi, memberi kejutan cerdas ke penonton bioskop indonesia yang haus akan tontonan menarik, setelah nagabonar jadi 2.
Kejutan sebelumnya muncul pada adegan bencong yang ngamen di perempatan jalan, kemudian "ditanggap" oleh Cacing demi membangun romantisme dia dengan cewe gebetannya. Bencong nan melambay itu sukses diperankan oleh Candil vokalis Serieus.
Kemudian berondongan kejutan berlanjut pada saat Hanung narsis, ikutan nongol di film garapannya. Dialog cerdas, saat dia memanfaatkan moment "kesuksesannya" membesut ayat-ayat cinta, dengan membuat dialog narsis " Lo ga kenal gw ya?" (siapa sih sekarang yang ga kenal Hanung, sebagai berkah ayat2 cinta itu?) dan dengan penuh percaya diri dijawab oleh si montir cewek seksi, "kenal..kenal.. Saiful jamil!!).. Lagi-lagi "gerrr!" humor cerdas dari si Hanung.
Point lain lagi yang saya catat dari film geblek ini adalah, kita belajar pluralitas dari penggambaran bahwa sebuah geng motor tak harus terdiri dari satu macam merek motor seperti yang ada selama ini. Lihat saja gerombolan pengiklan gratis produk automotif yang "gemblelengan" parkir di pinggir jalan itu. Dengan gerombolan demi gerombolan terpisah tergantung merek dan jenis motor. Dalam film ini digambarkan bahwa semangat kebersamaan lah yang diutamakan. Bukan semangat keseragaman.(meski paradoks dengan The Cangcuters, "tokoh" utama film ini sendiri, yang disetiap pentasnya selalu pakai seragam yang sama.)
Yang pasti, setelah beberapa kali kecewa dengan filmnya Hanung, mulai dari kamulah satu-satunya sampai Ayat-ayat cinta, kali ini saya yang ramai-ramai nonton bareng segerombolan teman, tidak keluar bioskop dengan mimik muka ditekuk sambil "misuh-misuh" Kami bertemu lagi dengan kejenakaan Hanung seperti pernah muncul di Catatan Akhir sekolah, dan Jomblo..
"Welkambek Nung!"

(sebuah catatan untuk menyemangati diri sendiri:P)
Satu hal yang hampir saya lewatkan setelah bergelut 2 tahun lebih di lapas anak adalah adalah. Memakai kacamata etnografi dalam mencatat dan mencermati siklus kehidupan yang berlangsung dibalik teralis besi. Lapas anak Tangerang, sebagaimana lapas-lapas lainnya, memiliki pola kehidupan yang secara alamiah membentuk suatu "aturan adat" dengan berbagai tata cara dan tradisi yang unik. Mencermati lapas anak dengan beberapa hal unik yang muncul di dalamnya seperti tradisi “guyur” saat ada anak akan bebas, kemudian ritual “gaulan” sebagai media mengakrabkan diri satu dan lainnya, merupakan produk budaya yang menurut saya bisa disandingkan dengan Tradisi potong rambut, atau tradisi mengisap pipa cangklong secara berkeliling di dalam suku indian. Kalau mau melihat sebuah negeri kecil dimana disana ada representasi dari lagu kebangsaan, presiden, menteri, ada kepala-kepala daerah. juga sebuah prasarat mutlak untuk berdirinya sebuah negara, yaitu ada wilayah. Nah, semua itu bisa ditemukan di lapas anak. Bahkan bahasa ibu (bisa diwakili oleh bongseng, bahasa isyarat khas anak-anak lapas) menguatkan semua itu. (perlu dicatat pula, dilapas anak penghuninya terdiri dari berbagai latar belakang, baik suku ataupun agama, bahkan daerah kekuasaan) Dari hal-hal tersebut diatas, kemudian mendorong saya untuk mengubah sudut pandang dalam merencanakan buku yang sedang saya kerjakan. Selama ini saya sekedar mencatat apa yang saya rasakan selama berinteraksi dengan anak-anak, menjadi kumpulan tulisan curhat yang sangat biasa. Sampai kemudian kemarin, saya mendapat “pencerahan” dari seorang teman. Tak cuma pencerahan, tetapi juga dorongan dan kesediaan untuk mengedit tulisan saya yang cakadut itu menjadi sebuah buku dengan pendekatan etnografis..Dengan penuh semangat teman saya itu memberi refrensi karya-karya V.S Naipul, salah satunya A House for Mr. Biswas, sebagai contoh novel etnografi yang bagus. “Trims kawan.” Pencatatan dan wawancara pun mulai saya lakukan, kali ini dengan penuh kesadaran. Sebelumnya saya juga punya “pola interogasi” dengan anak-anak, tetapi tidak terencana dan berstruktur. Dengan outline yang saya buat, mulailah bak detektif, saya mengamati pola laku mulai dari petugas, sampai anak-anak sendiri. Wawancara ulang mengenai beberapa tradisi yang ada di lapas dengan para pelakunya, semisal soal ritual guyur. Juga soal sejarah bongseng, yang ternyata tidak terjawab oleh anak-anak. Jawaban mereka sama, mewarisi dari senior. Diajarkan dari satu orang ke orang lain. Bahkan ketika ditanya artinya pun rata-rata tidak bisa menjawab. Justru mereka yang nanyak balik ke saya. Bukan tanya soal bongseng, tetapi menanyakan, kenapa saya jadi berubah mirip detektif kesiangan atau reporter telat liputan.. jadi suka nanya-nanya sesuatu yang bikin pusing. Halah..:P Saya yang biasa cuek jadi berubah sok tau dan sampai dibela-belain bawa recorder buat mendengarkan ocehan mereka.. hehehe.. saya yang biasanya kalau datang paling langsung menuju ruangan curhat, tempat dimana kelas komik curhat berlangsung .. membuka tas.. membagi kertas dan alat gambar.. memberi tugas yang harus dikerjakan, kemudian kadang dengan kurang ajarnya minta dipijitin anak-anak, atau malah “mlungker" tidur nungguin anak-anak selesai gambar, diselingi curhat ringan asal-asalan. .. tiba-tiba jadi serius.. ya gimana tidak dianggap aneh.. hehehe. Untungnya anak-anak cepat menangkap maksud saya, setelah saya jelaskan. Yang jelas saya sedang menabur mimpi.. Tiba-tiba saya seperti punya gairah baru. Benar-benar baru... Dengan kesadaran baru pula.. Untuk menyelesaikan sebuah karya.. Yang moga-moga bisa memberi manfaat dan membuka cakrawala baru tentang penjara anak di sisi kota Tangerang .. Sebuah karya sedang saya kerjakan.. Sebuah "Narasi dari balik teralis." catatan: makasih buat uye untuk masukannya.."piss bu..:P"
jari ini seperti cair menyatu dengan larik-larik abjad melebur dalam satu kata yang selalu kuingkari hingga detik ini
 | sampai | Apr 24, '08 2:01 PM for everyone |
pada satu titik benar-benar sampai kali ini(lama ga nengok rumah ini..:P)
 mataku tertumbuk pada benda aneh berbentuk kotak dari kayu. Didalamnya ada tempat neon dan kabel panjang tergulung tak beraturan. Teronggok dalam gerobak pengangkut barang bekas..Oooo.. ternyata sebuah meja layout, yang kemudian membawaku kembali ke tahun 80an.. Dulu, salah seorang kakakku mempunyai benda yang sama. Yang setiap malam dipakainya mengerjakan kerjaan layout dari percetakan tempatnya bekerja. Huruf gosok (rugos) tak lupa teronggok disampingnya. Dengan teliti digosoknya huruf tersebut satu persatu.. Sebuah pekerjaan "Njelimet" nan membosankan. Pekerjaan membuat layout majalah yang dikerjakannya dimataku adalah sebuah profesi yang "tidak banget." Dalam hati aku berjanji tak akan punya cita-cita bekerja sebagai layouter seperti yang dilakukan kakakku tadi. Aku mau pekerjaan lain pokoknya jangan layouter!! Dan ternyata saudara-daudara!! Tuhan selalu bekerja dengan cara yang aneh.. Tuhan mempunyai cara "iseng" dalam mengabulkan keinginan dan doa umatnya... Sejak tahun 2003 periuk nasiku selalu bersumber dari pekerjaan yang berkaitan dengan layout-melayout, dari majalah, jurnal, dan buku... he..he.. Kemudian, saat aku menyatakan bahwa Tangerang adalah tempat yang paling "enggak" buatku, dan berjanji dalam hati untuk tidak menginjaknya lagi, gara-gara pernah mengalami kejadian tidak enak disana, plus merasakan cuaca yang panas luarbiasa.. Eh.. Sekarang seminggu minimal sekali harus menyambangi tangerang, gara-gara pendampingan di Lapas.. lagi-lagi.. nasibku bak si Ikal dalam novel Laskar pelangi, yang akhirnya bekerja sebagai tukang sortir surat. Padahal, itu adalah sebuah pekerjaan yang selalu ia hindari dalam setiap doa-doa yang ia komat-kamitkan setiap usai shalat.. Dari situ pulalah aku belajar mensikapi sesuatu bernama benci. Saat akan menebarkan kebencianpun.. Sepertinya aku harus hati-hati dan penuh perhitungan.. Karena bisa jadi, yang kita benci adalah yang kita dapat.. Pesan moralnya kemudian adalah: Bencilah Jesica Alba kalau pengen mengawininya..:P
Ini tentang jumat kemarin“Assalamualaikum!” Suara nyaring terdengar dari pintu depan. Aku masih asik menekuri Rumah dan dunia nya Rabindranath Tagore. Masih malas-malasan sehabis jumatan. Dan sesuatu yang menyebalkan itu hadir. Selalu hadir disaat jam siang seperti ini. Bergegas aku beranjak kedepan. Disana sudah ada makluk ajaib berpeci. Ditangannya ada setumpuk buku dan kertas putih. Sudah kuduga,pasti orang meminta sumbangan. Memanfaatkan moment hari sakral dimana setiap muslim berusaha mereguknya dengan laku bernilai pahala. Benar. Bapak itu dengan gaya santun menawarkan 2 buah “kitab” tentang 20 sifat Allah dan tunutunan salat wajib. Aku seperti terpelanting di era 80an saat masih sebagai siswa madrasah tsanawiyah kelas satu yang wajib hapal dengan sifat-sifat Allah tersebut.sebagai prasarat lulus pelajaran Tauhid. Kemudian disela-sela buku itu, tersembul secarik kertas berisi doa nabi sulaiman untuk kejayaan, kekayaan dan kepintaran. Lagi-lagi aku teringat jaman “muda” dulu saat rajin merapal beragam doa bak mantra ampuh untuk menaklukkan masalah hidup yang sengkarut. “halah”
Bapak tersebut menjelaskan kalau dia tidak menjual buku-buku tersebut, makanya tidak menentukan nilai nominal. Tapi ia sedang mencari sumbangan untuk sebuah masjid nun di antah berantah di luar Depok sana…(waduh pak.. kasian sekali kabupaten anda memerintahkan warganya susah payah berkilo-kilometer berkelana mencari sumbangan untuk sebuah tempat ibadah ) Sebuah “cara” model baru yang menarik. Biasanya orang mencari sumbangan dengan mengangsurkan map kumal berisi nama lembaga sebuah yayasan tertentu. Dengan beraneka stempel dan tandatangan dilengkapi foto lokasi. Tentunya untuk meyakinkan calon penyumbang. Biasanya kemudian dilengkapi dengan kostum sesuai dengan organisasi yang tercantum di map. Kalau veteran ya pakai baju ketentaraan hijau lumut.lengkap dengan aksesori penghargaan dari legiunnya Kalau dari yayasan islam ya berpeci atau berjilbab, lengkap baju koko dan wangi aneh parfum yang konon dari negeri gurun sana. Cara baru ini cukup ampuh membuatku tak berkutik. Akhirnya, kuangsurkan 2 ribuan untuk menebus 2 kitab nan tipis itu beserta satu lembar mantra nabi sulaiman. Orang itu menghaturkan terimakasih dengan sopan, sambil berlalu menuju pintu rumah sebelah. Di dalam rumah, aku meletakkan di rak buku paling dasar yang jarang kusentuh ketiga benda aneh yang jelas-jelas tidak kubutuhkan itu. Kecuali suatu saat aku terbentur tembok dan menderita lupa ingatan akut, sehingga aku lupa semua tatacara shalat, mungkin buku itu akan banyak membantu. Tetapi, yang kemudian sedikit mengusik pikiranku adalah kreatifitas bapak tersebut dalam menjual dagangannya. Mengkondisikan orang untuk merasa tidak membeli, tetapi menyumbang. Buku tersebut jelas-jelas ada penerbit dan pengarangnya. Tentunya dicetak bukan untuk sarana mencari sumbangan. Sebuah kreatifitas yang barangkali lahir dari kondisi sulit seperti sekarang ini. Para “pencari sumbangan” itupun harus jeli mencari cara dan moment. Kemudian ini tentang hari ini. Lagi-lagi saat aku sedang melotot di depan komputer menyelesaikan desain newsletter dan majalah komik. Tiba-tiba suara salam itu kembali terdengar. Kali ini suara perempuan. Haduh. Ada mbak-mbak nih, bathinku. Ternyata… didepan pintu, berdiri seorang ibu berjilbab. Dengan baju biru mengesankan seorang dari satu institusi resmi negeri ini. Ditangannya tertenteng buku kecil yang didalamnya ada beberapa bungkusan. Ibu itu menawarkan abate, obat pemberantas nyamuk demam berdarah yang katanya mulai mengancam dan meneror wilayahku ini.. “Wiuh..dahsyat!!” kemudian ibu itu menawarkan solusi jitu, dengan membeli abate yang perbungkusnya dijual 3000 rupiah saja. Sambil menjelaskan kalau untuk fogging akan dilakukan sebulan sekali. Hmm.. Setahuku abate itu dibagi gratis.dan acara semprot menyemrot itu biasanya dilakukan saat sudah ada 3 korban yang jatuh, atau kalau lingkunganku memang diindikasi berpotensi untuk dihuni makluk belang blonteng hitam putih mirip kostum napi jaman dulu itu.(ini juga aku ketahui dari buku pemberian mbak hida..:P) Nah.. nah.. kali ini aku tidak mau “kalah” seperti jumat kemarin. Dengan sok tahunya kujelaskan soal abate dan fogging. Itupun setelah ibu tersebut ngotot bilang kalau dana dari penjualan abate untuk pengobatan penderita demam berdarah di RS alkautsar Serpong Tangerang sana.. "Waduh buu.." jauh-jauh dari Serpong melabrak wilayah kekuasan Nurmahmudi Ismail demi sosialisasi demam berdarah. Memangnya pemerintahan kota depok sedemikian begonya hingga tak punya program pemberantasan si Deborah* ini?. Sampai kemudian meng-impor tenaga dari wilayah lain untuk sosialisasi demam berdarah.. Kuserang ibu tersebut dengan pernyataannya sendiri. Dan itu membuatnya tak berkutik kemudian ngeloyor tanpa pamit.. berkelebat dengan jilbabnya yang melambai.. betapa tidak sopannya! Yang kemudian menumbuhkan keprihatinan sendiri. Ia telah merusak citra seorang muslimah yang ia lekatkan pada tampilan fisiknya.
keterangan: Deborah*: nama ratu nyamuk demam berdarah dalam komik Db keluaran depkes ilustrasi dari cover buku DB, buku salat wajib dan sifat2 tuhan
Gara-gara nulis jurnal tentang ebiet, kenanganku akan masa lalu. Masa kecilku di kampung nglembu seakan “mubal.” Meruyak.. dan, sayang kalau tidak kucatat.
Karena ingatan ini rasanya makin pendek saja. Ini tentang seorang lelaki gempal. Dengan tato di lengannya. Dengan wajah yang seram untuk ukuran kami, bahkan orang dewasa sekalipun. Anak rumahan kayaknya bisa langsung step seperti orang kesambet dedemit kedung, kalau berani menatap wajahnya. Lelaki itu, sangat ditakuti di kampung kami. Se-kecamatan Kretek bisa jadi kenal dengan lelaki ini. “gali” kata orang-orang. Kerap kujumpai ia ngobrol di ladang tebu samping dusun. Bercakap akrab, dengan Wo Cokro, uwak jauhku. Kadang juga, ia datang ke rumahku. Menemui kakek. Entah apa yang mereka bincangkan. Pantang bagiku menguping pembicaraan kakek. Kalau ketahuan ibu. Bisa babak belur aku. Dosa besar menguping pembicaraan orang. Begitu prinsip ibuku. Pernah juga kulihat ia bercakap dengan Mandor tebu. Yang juga sangat aku takuti.
Ada cerita yang berkaitan dengan mandor galak itu. Pernah suatu ketika, Aku, Pangat, Domber, 2 sobat kentalku “blusukan” ke kebon tebu. Namanya juga anak-anak. Saat keluar dari kebon tebu, ditangan kami sudah tertenteng masing-masing empat lonjor tebu. Saat berjalan menuju rumah itulah. Tiba-tiba saja, sang mandor sudah tegak di depan kami. Dengan tatapan bengisnya. Kami seperti tikus yang siap diterkam kucing garong. Pangat langsung pucat. Domber terkencing-kencing. Aku gemeteran tak karuan. Serasa copot jantung ini. Dan... satu-satunya jalan... “lariiiii..” Lintang pukanglah kami.. Cerai berai masuk dusun.. Aku ngumpet di kolong langgar yang memang berbentuk panggung. Pangat nyungsep di kandang sapinya. Sementara Domber “ndepis” di dalam “jugangan” bekas kedung. Sampai 4 jam baru kami berani pulang. Sudah jatuh tertimpa tangga. Saking lamanya ngumpet, aku terlambat pulang. Harusnya aku sampai rumah sebelum magrib, karena tugasku adalah mengantar kakek ke masjid. Sebelum masuk jam magrib kakek sudah harus di masjid, karena beliau adalah imam. Dan aku.. cucu bengalnya terlambat pulang. Bisa dibayangkan, betapa marahnya ibuku. Pantatku dihajarnya dengan sapu lidi. Sampai aku melolong-lolong tak karuan... Kemudian, diwaktu yang lain, aku lagi-lagi ketemu dengan mandor itu. Matanya tajam menatapku.. penuh selidik. Aku langsung pucat-pasi. Tiba-tiba, muncul lelaki itu. Ditangannya memegang satu lonjor tebu yang sudah terkupas. Ia memanggilku.” le.. gelem tebu ora? Mrene.” Seperti malaikat kehadirannya. Aku bergegas meninggalkan pak mandor, mendekatinya. Kusambar tebu yang diangsurkannya. Saat itulah, aku melihat, ada tato lain selain yang ada di lengannya. Tato dalam huruf arab, yang suatu saat setelah aku melek huruf arab, ku tahu.. itu kalimat “laila hailallah” tato yang aneh. Tahun 1984.. Aku meninggalkan dusun kecil itu. Meninggalkan Domber, Pangat, Danang, pardi, Udin dan Kang Tubi, nama lelaki gempal itu. Semua itu setelah kematian kakek.. Beliau wafat. kemudian disusul ibu.. beberapa bulan kemudian.
Aku pindah ke kota Jogjakarta, dimana ayah dan kakak-kakaku tinggal. Aku menjadi anak kota, yang kemudian jadi agak asing saat datang ke dusunku. Suatu saat, aku berkunjung ke dusun itu, dan bertemu Udin, salah satu temanku. Ia bercerita soal kang Tubi. Katanya, kang Tubi hilang dari dusun. “kena Petrus!” Ya. Kang tubi cukup punya syarat untuk “dilenyapkan.” Dengan tato di lengannya. Juga cap “Gali” yang disandangnya.. Yang kubayangkan kemudian adalah.. “DORRRR!!.” Kang Tubi terkapar.. Tanpa pembelaan.
 | Ebiet | Apr 13, '08 12:07 AM for everyone |
- Ternyata mengagungkan cinta
- harus ditebus dengan duka lara
- Tetapi akan tetap kuhayati
- hikmah sakit hati ini
- telah sempurnakan kekejamanmu
Lagu itu mengalir lembut. Diiringi dentingan piano tangan lentik dara cantik generasi berikutnya dari sang maestro besar, Ebiet.G. Ade.. Semua itu tersaji kemarin malam, di acara Kick Andy. Yah.. Ebiet. G. Ade adalah mesin waktu.. Dia bisa melemparku dalam sekeblatan, ke masa-masa delapanpuluhan. kembali ke sebuah rumah sederhana di pinggir Jl. Brigjend katamso, Jogjakarta. Rumah kami yang sekarang sudah menjadi toko bangunan. Rumah kami yang menjadi dunia remaja kakak-kakakku. Rumah dimana aku tumbuh menjadi "korban" selera kakak-kakakku. Selain Ebiet, ada Leo Kristi, Ada Iwan Fals.. Juga buku- buku aneh macam Pendidikan kaum tertindasnya Paulo Freire, Das Kapitalnya Karl Max, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck nya Hamka.. juga kho ping ho..hehehe.. Kembali ke Ebiet.. Tak hanya di rumah itu aku memiliki "keintiman" dengan lagu-lagu Ebiet. dikampung kakekku.. Nglembu, Panjang rejo pundong, Bantul... Dulu sekali.. Aku punya tetangga, Kang Dawam namanya. Hampir tiap hari memutar kaset Ebiet. Sambil memandikan ayam jago kesayangannya. Dibawah "dapuran pring" samping rumahnya. Aku kecil suka sekali melihat ayam-ayam kang Dawam yang gagah. Setelah agak besar baru aku tahu. Kang dawam itu "botoh jago." Tukang adu jago yang malang-melintang di seantero Bantul dan DIY. Seorang botoh jago yang di sisi kehidupannya merintih dengan lagu-lagu Ebiet. G. Ade... - Petir menyambar hujan pun turun
- Di tengah jalan sempat aku merenung
- Masih adakah cinta yang disebutkan cinta
- bila kasih sayang kehilangan makna?
Kemudian, beberapa tahun ke depan.. Saat aku KKN di daerah Banjarnegara. Ada juga kenangan yang lekat seputar lagu-lagu Ebiet. Pak rasiwan, salah seorang perangkat desa yang sering membantu kami saat akan membuat kegiatan dengan penduduk, adalah Penggemar berat Ebiet. lelaki tambun dengan kancing baju yang sering lepas, sehingga pusarnya sering nyelonong itu, sangat beda jauh dengan penampilannya. Di saat malam-malam. Nongkrong di bale desa, kemudian ada anak kampung sedang memetik gitar. "Rikues" nya selalu lagunya Ebiet. - Kau sayat luka baru di atas duka lama
- Coba bayangkan betapa sakitnya
- Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
- apa gerangan yang bakal terjadi lagi
- Begitu buruk telah kau perlakukan aku
- Ibu, menangislah demi anakmu
Dan malam menggeletar.. Dalam kepiluan tiada tara.. wajah-wajah Rambo itu.. Sontak berubah menjadi Rinto...
lumayan susah memancing bocah satu ini buat ngomong. saat gw tanya, jawabannya selalu.. "gak apa-apa.. biasa aja.suka-suka gw". dll.. seperti saat kemarin.. saat gw tanya soal komiknya yang ga dikasih teks sama sekali. komik bergambar sepasang lelaki dan perempuan. sedang di taman.. posisi berhadap-hadapan.. ekpresi wajah marah dan ketakutan.. saat gw minta ia supaya mau kasih teks, dia malah maunya nyeritain.. akhirnya ia panjang lebar cerita soal adegan dalam komiknya itu. anak itu. awalnya gak mau ikutan komik. mampir ke kelas komik gara-gara liat ada pembagian permen. kemudian ikutan gabung. pas gw tanya.."suka gambar ga" dia menggeleng."pengen bikin komik ga?".. geleng-geleng juga.. "mau belajar gambar ga?".. lagi-lagi menggeleng. anak-anak yang lain mulai "huuuuuu!!!" menyorakinya.."pengen permen aja loo!!" celetuk salah seorang anak komik. dasar badung lautan api.. "kalau gitu.. aku bikin tebak-tebakan aja ya mas?" katanya tanpa dosa.. gw terbahak.."oke.oke..." jawab gw. mulailah anak itu beraksi dengan gayanya yang arogan. bocah 12 tahun dengan kasus pencurian motor itu dengan pedenya mulai membanyol.. yang akhirnya terlalu berisik dan mengganggu anak-anak lainnya yang lagi asik bikin komik. selesai bikin tebak-tbakan, gw coba pancing anak itu. menuliskan tebak-tebakannya.. kemudian dikasih gambar kepala orang yang seolah-olah lagi bicara.. awalnya susah.. akhirnya bisa juga dia. membuat gambar pertamanya.. komik pertamanya. meski hanya sepenggal kepala.. dan tebak-tebakan jayus.. lama-lama.. anak itu menikmati juga.. meski pameran kemarin ia sempat kecewa karena tak diijinkan ikut keluar ke TIM. pertimbangan pak kalapas realistis juga. dia anak jalanan yang gampang menyesuaikan diri. kemungkinan kabur sangat besar.. sempat ngambek. ga mau masuk. meski akhirnya kalah dengan "gaulan". makanan kecil yang sering gw bawa ama si jeni "co-fast" gw, meruntuhkan"iman"nya.. hehehe terakhir kemarin.. ia membuat gambar utuh.. tidak cuma satu lembar.. ada 4 lembar. (sayang lom gw scan) tetapi tidak diberi teks ama dia.. rupanya ia sudah menemukan "kenikmatan" membuat gambar.. bagi gw.. itu sebuah kemajuan yag cukup berarti..
"hssshh..urgh...ouhgggg...arrgggghhhhh.. ngoss..ngosss...ngosss.arggghhhhhhhhhh.. krakk!!!".. akhirnya.. tanggal juga gigiku.. "ufff...lega" :P
| |